Dunia Bidan: Makalah

Informasi Seputar Dunia Kebidanan Artikel Kesehatan Materi Kuliah Bidan Pemula Makalah Kesehatan

Monday, March 5, 2018

Makanan Yang Baik Untuk Ibu Hamil

8:41 AM 0
Makanan Yang Baik Untuk Ibu Hamil
K A T A P E N G A N T A R

Puji syukur kami panjatkan kepada Allah SWT yang telah memberikan rahmat dan hidayah-Nya sehingga makalah ini dapat selesai dengan baik dan tepat pada waktunya.
Pada kesempatan ini kami akan membahas tentang Makanan bagi Ibu Hamil. Dimana didalamnya terdapat beberapa penjelasan tentang pengertian gizi seimbang, pentingnya gizi seimbang bagi ibu hamil, zat gizi apa saja yang dibutuhkan selama kehamilan, sampai pada dampak yang terjadi bagi ibu hamil dan perkembangan janinnya bila kekurangan asupan gizi.
Untuk itu kami mengucapakan terima kasih, kepada kedua orang tua kami yang senantiasa membantu dan memotivasi kami, kepada teman-teman dan semua pihak yang telah membantu hingga makalah ini dapat selesai dengan baik.
“Tak ada gading yang tak retak” begitu pula dengan makalah ini. Mohon maaf bila terdapat sesuatu yang kurang berkenan dan kami juga mengharapkan saran dan kritik yang membangun agar memotivasi kami untuk lebih baik lagi. Semoga makalah ini dapat bermanfaaat bagi kita semua. Terima kasih. 

B A B 1 P E N D A H U L U A N
1.1 Latar Belakang
Makanan bergizi sangat penting diberikan kepada bayi sejak masih dalam kandungan. Selanjutnya, masa bayi dan balita merupakan momentum paling penting dalam melahirkan generasi pitar dan sehat. Jika usia ini tidak dikelola dengan baik apalagi dengan kondisi gizi yang buruk maka di kemudian hari akan sulit terjadi perbaikan kualitas bangsa. Karena itulah makanan bergizi seharusnya dipersiapkan sejak ibu hamil. Gizi seimbang ataupun nutrisi yang cukup harus terpenuhi sejak bayi dalam kandungan. Hal ini tidak hanya untuk perkembangan janin yang optimal tetapi juga untuk kesehatan sang ibu. Dengan gizi yang optimal diharapkan selain mengurangi angka kematian ibu dan bayi juga dapat melahirkan sumber daya manusia yang berkualitas sebagai generasi penerus bangsa.

1.2 Permasalahan
Saat hamil, ibu cenderung mengalami kelemahan fisik. Oleh karena itu, untuk mencegah terjadinya keguguran atau kesulitan dalam persalinan, serta hal-hal yang tidak diinginkan lainnya, fisik ibu harus diupayakan tetap bugar. Untuk menghindari terjadinya kelahiran bayi premature atau bayi lahir dengan berat badan yang rendah, seorang ibu harus menjaga kondisi fisiknya dengan mencukupkan kebutuhan gizinya. Paling tidak dalam hal ini ibu hamil harus bisa memikirkan bahwa saat ini ia makan untuk berdua. Artinya seorang ibu hamil selain harus makan untuk dirinya juga harus menyediakan makanan untuk janin yang di kandungnya. Untuk itu porsi makan ibu harus ditambah tepatnya dengan gizi yang seimbang agar memperoleh kecukupan gizi untuk dirinya dan janin yang sedang dikandungnya.

1.3 Tujuan Penelitian 
Tujuan pembuatan makalah ini adalah selain untuk memenuhi tugas mata kuliah ilmu gizi, tetapi juga sebagai bekal pengetahuan untuk menambah wawasan dalam hal ini berkaitan dengan kesehatan ibu hamil. Yaitu melalui asupan makanan yang dikonsumsi oleh ibu hamil tersebut mulai dari gizi yang harus dipenuhi sampai pada pola makan yang tepat.

1.4 Metode Penelitian
Untuk membahas dan meneliti permasalahan yang berkaitan dengan makanan ibu hamil ini, pengumpulan data proses pembuatan makalah ini yaitu dengan menggunakan beberapa buku, dan melalui informasi dari internet.

Makanan Bagi Ibu Hamil
Saat hamil kebutuhan gizi seorang wanita meningkat guna memenuhi kebutuhan janin yang sedang berkembang. Secara rinci, makanan pada seorang wanita hamil dibutuhkan untuk:
1. Pertumbuhan janin dalam kandungan
2. Menjaga kesehatan dan kekuatan badan ibu
3. Menumpuk cadangan dalam tubuh untuk digunakan ketika menyusui
4. Mempercepat penyembuhan luka-luka bekas persalinan

Pengaturan makanan untuk ibu hamil
1. Makan teratur tiga kali sehari
2. Hidangan terbuat dari bahan makanan bergizi empat sehat lima sempurna (makanan pokok, lauk pauk, sayur dan buah, serta dua gelas susu ibu hamil setiap hari)
3. Pergunakan aneka ragam makanan yang ada
4. Pilih berbagai macam bahan makanan segar

Saat Hamil, Berapa Banyak Makanan yang Diperlukan?
Berapa banyak yang diperlukan?
Secara umum, banyaknya makanan yang diperlukan pada kehamilan bisa dilihat dalam tabel di bawah ini. Tabel tersebut berlaku pada kehamilan normal tanpa gangguan. Jika kehamilan terganggu (misalnya akibat mual muntah berlebihan), tentu dibutuhkan penyesuaian. Contohnya :
1. Pada trimester pertama
Pada umur kehamilan 1-3 bulan dapat terjadi penurunan berat badan ibu akibat pusing, mual dan muntah. Guna menghindarinya sebaiknya makanlah makanan dalam porsi kecil namun sering, contoh: susu, sari buah, roti kering.
2. Pada trimester kedua
Nafsu makan ibu mulai membaik sehingga porsi makanan mulai kembali seperti sebelum hamil berupa tiga porsi makanan utama sehari ditambah 1 porsi makanan selingan. Hidangan lauk pauk hewani seperti telur, ikan, daging, dan teri sangat baik serta mampu mengurangi risiko kurang darah.
3. Pada trimester ketiga
Banyaknya makanan pada periode ini sebaiknya disesuaikan dengan keadaan ibu. Jika ibu hamil memiliki berat badan berlebih, sebaiknya makanan pokok (tepung-tepungan, misalnya nasi, roti, sirup, kue-kue) dikurangi dan sayuran serta buah-buahan segar diperbanyak. Selain membantu menjaga berat badan, sayur dan buah juga membantu mencegah sembelit (susah buang air besar).
4. Jika ibu hamil mengalami udem (bengkak-bengkak pada kaki)
Jika kedua tungkai terlihat bengkak-bengkak, sebaiknya kurangi mengkonsumsi makanan yang asin, dan batasi penggunaan garam saat memasak makanan.

Camilan Sehat untuk Ibu Hamil
Bukan rahasia lagi, selama kehamilan kecenderungan Ibu untuk mengemil semakin menjadi-jadi. Padahal, kita tahu, selain dapat menyebabkan berat badan berlebih karena jumlah kalori dan lemaknya yang tinggi, camilan juga seringkali mengandung bahan pengawet yang tidak menyehatkan, seperti MSG, garam, atau gula berlebih. Namun bukan berarti Ibu harus menghentikan mengemil sama sekali. Yang penting, pilihlah camilan yang sehat dan tidak menggemukan. Apa sajakah itu?
Buah-buahan
Buah merupakan camilan yang menyehatkan karena mengandung banyak serat, air, rendah lemak, dan sedikit kalori. Ibu dapat memilih jenis buah-buahan bergizi tinggi dan kaya serat, seperti pepaya, stroberi, jeruk, mangga, melon, anggur dan sebagainya. Konsumsilah buah-buahan ini dalam keadaan segar. Ibu bisa memakannya langsung, atau dibuat jus.
Sayuran
Sayuran juga bisa menjadi pilihan camilan sehat karena mengandung banyak vitamin, serat, serta rendah lemak maupun kalori. Ibu bisa mengolahnya menjadi gado-gado, salad, ketoprak, dan lain-lain.
Selain camilan menyehatkan kaya serat di atas, Ibu juga bisa memilih camilan sehat lainnya seperti:
· Crackers · Yoghurt · Susu · Kroket · Risoles
Nutrisi Penting Masa Hamil
Benarkah wanita hamil harus makan dengan porsi dua kali lebih banyak dari wanita biasa? Dari segi kualitas memang jawabannya adalah ya. Tapi dari segi kuantitas jawabannya adalah tidak. Dalam mengkonsumsi makanan, ibu hamil harus memperhitungkan nilai gizi makanan yang dikonsumsi, baik bagi dirinya maupun janin yang ada dalam kandungannya
Seiring pertambahan usia kandungan, maka kebutuhan gizi ibu hamil akan meningkat, terutama setelah memasuki kehamilan trimester kedua. Sebab pada saat itu, pertumbuhan janin berlangsung pesat - terutama perkembangan otak dan susunan syaraf dan membutuhkan asupan gizi yang optimal.
Jangan heran jika berat badan ibu pun turut naik pesat. Ini berbeda dengan kehamilan pada trimester pertama. Pada saat ini pertumbuhan janin masih belum begitu pesat, sehingga kebutuhan gizinya juga belum optimal.
Pada dua bulan terakhir kehamilan, otak bayi berkembang sangat cepat. Pada periode ini, gizi diperlukan bagi pengembangan otak dan jaringan saraf sang bayi. Usahakanlah makan setiap 4 jam sekali. Sebab, meskipun Anda tidak lapar, kemungkinan bayi Anda yang lapar.
Hal lain yang perlu diperhatikan, meskipun nafsu makan meningkat, tetaplah berpegang pada pola makan dengan gizi seimbang. Jangan asal makan karena lapar mata.
Sebaiknya ibu hamil menghindari makanan berkalori tinggi seperti cokelat dan es krim. Harus diingat pertambahan berat badan ideal selama masa kehamilan adalah berkisar antara 10-15 kg.
Pada tabel berikut dapat dilihat komponen utama gizi dan kecukupan yang dianjurkan (RDA) dari Food Nutrition Board, National Research Council :
Recommended Dietary Allowance 9th Ed. Washington DC, Nacional Academy Sciences, 1980 :
3 Komposisi Utama
Kebutuhan harian Wanita usia 19 - 50 th
Kebutuhan tambahan harian wanita semasa:
Hamil Menyusui
Protein (g) 44 +30 +20
Zat Besi (mg) 18 +30-60 +30-60
Kalsium (mg) 800 +400 +400

Makanan dengan gizi seimbang dapat diperoleh dari karbohidrat dan lemak sebagai sumber zat tenaga, protein sebagai sumber zat pembangun, serta vitamin dan mineral sebagai zat pengatur. Sebagai sumber tenaga yang menghasilkan kalori, karbohidrat dapat diperoleh dari serealia, umbi-umbian. Sementara protein sebagai sumber zat pembangun dapat diperoleh dari daging, ikan, telur, kacang-kacangan, dan sebagai sumber zat pengatur, vitamin dan mineral dapat diperoleh dari buah-buahan dan sayur-sayuran. Tambahan vitamin, baik B kompleks, vitamin A, vitamin C, vitamin D, maupun vitamin E diperlukan ibu hamil untuk meningkatkan kebugarannya.


Nutrisi yang diperlukan adalah:
1. Karbohidrat dan lemak sebagai sumber zat tenaga untuk menghasilkan kalori dapat diperoleh dari serealia, umbi-umbian.
2. Protein sebagai sumber zat pembangun dapat diperoleh dari daging, ikan, telur dan kacang-kacangan.
3. Mineral sebagai zat pengatur dapat diperoleh dari buah-buahan dan sayur - sayuran.
4. Vitamin B kompleks berguna untuk menjaga sistem saraf, otot dan jantung agar berfungsi secara normal. Dapat dijumpai pada serealia, biji - bijian, kacang-kacangan, sayuran hijau, ragi, telur dan produk susu.
5. Vitamin D berguna untuk pertumbuhan dan pembentukan tulang bayi Anda. Sumbernya terdapat pada minyak hati ikan, kuning telur dan susu.
6. Vitamin E berguna bagi pembentukan sel darah merah yang sehat. Makanlah lembaga biji-bijian terutama gandum, kacang-kacangan, minyak sayur dan sayuran hijau.
7. Asam folat berguna untuk perkembangan sistem saraf dan sel darah, banyak terdapat pada sayuran berwarna hijau gelap seperti bayam, kembang kol dan brokoli. Pada buah-buahan, asam folat terdapat dalam jeruk, pisang, wortel dan tomat. Kebutuhan asam folat selama hamil adalah 800 mcg per hari, terutama pada 12 minggu pertama kehamilan. Kekurangan asam folat dapat mengganggu pembentukan otak, sampai cacat bawaan pada susunan saraf pusat maupun otak janin.
8. Zat besi yang dibutuhkan ibu hamil agar terhindar dari anemia, banyak terdapat pada sayuran hijau (seperti bayam, kangkung, daun singkong, daun pepaya), daging dan hati.
9. Kalsium, diperlukan untuk pertumbuhan tulang dan gigi janin, serta melindungi ibu hamil dari osteoporosis Jika kebutuhan kalsium ibu hamil tidak tercukupi, maka kekurangan kalsium akan diambil dari tulang ibu. Sumber kalsium yang lain adalah sayuran hijau dan kacang-kacangan. Saat ini kalsium paling baik diperoleh dari susu serta produk olahannya. Susu juga mengandung banyak vitamin, seperti vitamin A, D, B2, B3, dan vitamin C. Zat-zat gizi ini juga terdapat pada produk olahan susu, seperti keju, es krim, yoghurt.

Makanan yang Harus Dihindari
Ada beberapa jenis makanan yang harus dihindari oleh ibu hamil, karena kemungkinan membawa bibit penyakit atau parasit tertentu yang membahayakan janin. Jenis bibit penyakit / parasit yang membahayakan kandungan dan terbawa dalam makanan adalah:
· Listeria
Dapat menyebabkan keguguran, bayi lahir mati, atau keracunan darah. Bakteri listeria monocytogenes banyak terdapat pada :
- produk unggas (termasuk telur), ikan atau daging sapi yang diolah setengah matang.
- Selada, buah dan sayuran yang tidak dicuci bersih, terutama bila dimakan dalam keadaan mentah.
- Beberapa jenis keju lunak, seperti Brie, Camembert, Blue Cheese serta keju lain yang dibuat dari susu kambing atau domba.
· Bakteri E. Coli
Sering ditemukan pada daging yang diolah setengah matang, dan susu yang tidak mengalami pasteurisasi. Racun yang dikeluarkannya dapat merusak usus dan ginjal.
· Salmonella dan Toksoplasma
Untuk menghindari infeksi bakteri jenis ini, sebaiknya Anda tidak mengkonsumsi daging dan telur dalam bentuk mentah atau setengah matang.

Saturday, March 3, 2018

Makalah Psikologi

7:12 AM 0
Makalah Psikologi
Pencapaian Peran Seorang Ibu Menurut Teori Reva Rubin dan teori Ramona T Mercer

Wanita merupakan pribadi yang unik mempunyai kebutuhan dasar yang bermacam-macam sesuai tingkat perkembangannya. Wanita dewasa misalnya, dari pola pikir ataupun kebutuhan berbeda dengan saat ia anak-anak ataupun remaja. Termasuk didalamnya kebutuhan untuk melanjutkan keturunan. Prosesnya melalui pernikahan. Wanita dewasa yang sudah menikah pada umumnya mendambakan kehamilan. Ada sebuah pernyataan yang sering kita dengar bahwa wanita dianggap sempurna apabila mampu melahirkan anak dengan kata lain mampu melanjutkan keturunan.

Kehamilan dan persalinan merupakan suatu pengalaman yang istimewa bagi seorang wanita. Tetapi tidak hanya terhadap wanita, kehamilan juga membawa suatu arti yang bermakna baik bagi keluarga dan komunitasnya. Didalam kehamilan juga terjadi perubahan terhadap beberapa hal seperti dari segi psikologis, fisik, serta dapat pula ditinjau dari segi social budaya.

Ditinjau dari segi psikologis misalnya pada wanita hamil terjadi perubahan psikis dan emosi, hal ini berkaitan dengan usia atau kedewasaan serta pola pikir seseorang. Misalnya, pada wanita yang baru pertama kali mengalami kehamilan umumnya mempunyai perasaan senang, cemas, takut, ragu-ragu, dalam kesiapannya untuk menjadi seorang ibu. Dan hal ini mempengaruhi perubahan emosi serta perilaku yang cenderung menjadi lebih peka atau sensitive terhadap diri dan kehamilannya. Di dalam kehamilan selain psikis juga terjadi perubahan fisik. Tidak hanya fisik secara fisioligis juga terjadi pada perubahan pada system kerja organ wanita hamil tersebut. Dapat dilihat dari perubahan bentuk badan, pertambahan berat badan ,dsb. Dari perubahan bentuk badan bisa juga mempengaruhi psikisnya misalnya, bagi wanita yang baru pertama kali hamil mempunyai perasaan khawatir bila pada awalnya mempunyai bentuk tubuh ideal atau langsing tiba-tiba menjadi gemuk. Sehingga dapat berpengaruh terhadap penampilannya. Hal ini pun tidak menutup kemungkinan bagi wanita yang sudah pernah melahirkan. Selanjutnya ditinjau dari segi sosial budaya. Semboyan kita Bhineka tunggal Ika telah memberikan gambaran bahwa Negara Indonesia terdiri dari berbagi pulau yang berarti mempunyai beraneka ragam budaya. Lingkungan tempat tinggal serta adat atau budaya yang ada dapat berpengaruh terhadap kehamilan. Misalnya di lingkungan tempat tinggal atau sosial apakah kehamilan ini diterima atau tidak baik dari keluarga maupun masyarakat. Hal ini bisa pula berdampak pada psikis wanita hamil tersebut. Dari segi budaya atau adat misalnya ada nasehat atau larangan-larangan tertentu yang harus dituruti, dan umumnya sebagian besar wanita hamil ini menurutinya. Saran dari orangtua mereka maupun orang yang dituakan serta adanya pengalaman membuat mereka percaya dan menjalankan perintah-perintah tersebut. Ini semua dilakukan dengan harapan kehamilannya dapat selamat sehingga dianggap berhasil dalam pencapaian peran menjadi orang tua dalam hai ini menjadi seorang ibu.

Kehamilan dan peran sebagai orangtua dapat dianggap sebagai masa transisi, termasuk didalamnya pencapaian peran ibu. Pencapaian peran ibu diperoleh melalui proses belajar yang dicapai melalui suatu rangkaian aktifitas. Dalam tulisan ini akan dikemukakan dua teori yaitu teori Reva Rubin dan teori Ramona T Mercer yang didalamnya terdapat penjelasan tentang pencapaian peran seorang ibu.

TEORI REVA RUBIN

Teori ini menjelaskan mengenai pencapaian peran ibu (attainment of maternal role). Rubin menjelaskan teorinya mengenai peran dan penampilan peran. Ia membedakan antara konsep dari posisi dan konsep dari peran.
v Konsep posisi : suatu status social yang diberikan kepada seseorang. Misalnya menjadi seorang ibu. Posisi menjadi seorang ibu sebetulnya tidaklah mudah. Karena dalam mengurus anak-anaknya tidak hanya dibutuhkan pengetahuan dan kemampuan saja tapi juga dituntut untuk melaksanakannya dengan ikhlas. Seorang anak akan tumbuh dengan baik jika dalam keluarga berada seorang ibu yang baik. Seorang ibu adalah generasi penerus keluarga dan bangsa, sehingga keberadaan wanita yang sehat jasmani, rohani, dan social sangat diperlukan. Ibu adalah pendidik pertama dan utama dalam keluarga. Kualitas manusia sangat ditentukan oleh keberadaan atau kondisi dari seorang ibu dalam keluarga.

v Konsep peran : dilukiskan sebagai aktivitas dan tindakan yang dilakukan oleh individu tersebut yang menentukan bahwa dia mempunyai posisi tertentu. Seseorang mempunyai posisi berbeda dalam tahapan hidupnya yang berbeda. Suatu peran diperoleh melalui proses belajar yang dicapai melalui suatu rangkaian aktivitas. Termasuk didalamnya peran ibu. Peran ibu dalam keluarga sangat penting. Seorang ibu yang baik akan berusaha semaksimal mungkin untuk kesejahteraan keluarga. Terlebih perannya dalam menentukan masa depan anak-anaknya. Dan ini dimulai dari perhatiannya pada saat kehamilan. Karena itulah sangat pantas bila seorang ibu digambarkan seperti lirik dalam sebuah lagu.

Kasih ibu kepada beta 
Tak terhingga sepanjang masa 
Hanya memberi tak harap kembali 
Bagai sang surya menyinari dunia 

v Tujuan Teori Rubin : mengenali bagaimana seorang wanita mengambil perannya sebagai ibu dan akibatnya intervensi atau tindakan apa yang mungkin membantu bahkan mempunyai efek negatif dalam proses ini. Selain itu, Rubin menyimpulkan tujuan dari usaha ibu selama kehamilan seperti :

· Meyakinkan adanya keamanan bagi diri dan bayinya selama kehamilan dan persalinan. Seorang wanita hamil pada umumnya akan berusaha semaksimal mungkin untuk menjaga kehamilannya. Seperti memenuhi kebutuhan nutrisi selama hamil, mengurangi aktifitas yang terlalu berat, mengendalikan emosi serta berusaha untuk tidak terlalu banyak pikiran yang bisa menjadi pemicu timbulnya stress. Dalam hal ini bidan berperan penting terhadap kesejahteraan kehamilan. Kesadaran wanita hamil akan pentingnya pemeriksaan kehamilan baik ke bidan ataupun tenaga kesehatan lainnya, akan membantu memberikan rasa aman terhadap wanita hamil. Selain itu, dengan adanya dukungan , perlindungan, serta perhatian keluarga akan berdampak baik terhadap psikisnya karena akan memberikan rasa aman bagi dirinya selama kehamilan dan pada saat persalinan.

· Meyakinkan adanya penerimaan social bagi dirinya dan bayinya.
Pada keadaan ini situasi lingkungan tempat tinggal berpengaruh terhadap penerimaan kehamilan. Apakah itu dalam lingkup keluarga, maupun masyarakat. Bagaimana kehamilan itu bisa terjadi, apakah direncanakan atau tidak, selain itu pandangan masyarakat ataupun penilaian masyarakat terhadap kehamilan juga berpengaruh kepada penerimaan social baik bagi dirinya maupun bayinya. Lingkungan yang mendukung akan membantu membangun keyakinan terhadap kehamilan , terlebih terhadap orang-orang yang berarti bagi wanita hamil tersebut.

Rubin mengidentifikasikan 3 aspek dari identitas peran ibu, yaitu :

1. Image ideal, terdiri dari semua ide yang dimiliki wanita itu mengenai sikap dan aktivitas para wanita yaitu seorang ibu. Penilaian terhadap image ideal adalah relatif. Tergantung siapa yang menilai, pandangan, serta pola pikir setiap individu. Namun pada umumnya penilaian terhadap image yang ideal itu dari semua lapisan masyarakat adalah hamper sama. Sebagai perumpamaan dapat diberikan contoh seperti ada seorang ibu yang setiap pagi menyiapkan sarapan, mengantar anak ke sekolah, memasak makan siang dan malam, menjadi pedamping yang baik untuk suami,dll. Dari gambaran ini mungkin dari pandangan orang lain dia merupakan ibu yang ideal, tapi belum tentu terdapat penilaian yang sama dari anak-anaknya, suami maupun keluarganya yang lain.

2. Image diri, terdiri dari sikap wanita itu melihat dirinya yang dimiliki dari pengalamannya. Sebagai ibu yang mempunyai image diri yang baik dan bisa diterima oleh keluarga dan masyarakat mereka sebaiknya mempunyai pengetahuan yang luas, pengalaman yang banyak terutama dalam hal rumahtangga. Ini bisa dipelajari sejak remaja sebagai calon ibu bisa melalui media pendidikan, media cetak, elektronik serta sarana lainnya atau melalui pergaulan dengan masyarakat yang dianggap lebih berpengalaman dalam membina rumahtangga.

3. Body image, berhubungan dengan perubahan tubuh selama kehamilan dan perubahan nyata dari arti proses kehamilan itu. Pada penilaian body image ini tergantung dari penilaian individu tersebut bisa berarti positif maupun negative. Positif dalam arti tidak mempunyai kekhawatiran (percaya diri) sehingga dapat memudahkan dalam mengendalikan diri dalam masa kehamilan dan pasca persalinan. Sedangkan penilaian negative dapat dipicu dari sikap kurangnya kesiapan fisik ataupun mental serta rasa kurang percaya diri dalam penerimaan proses kehamilan yang berdampak terhadap penurunan kualitas dari kehamilan itu sendiri.

TEORI RAMONA T MERCER
Teori ini menjelaskan tentang stress antepartum dan pencapaian peran ibu. Efek dari stress antenatal pada keluarga. Ramona mengidentifikasi 6 variabel yang berhubungan dengan status kesehatan, hubungan pasangan ibu dan bayi dan fungsi keluarga yaitu :

1. Stress antepartum
Dijelaskan sebagai komplikasi dari kehamilan atau kondisi beresiko dan pandangan negative tentang peristiwa kehidupan. Dalam kehidupan kita tak dapat mencegah sesuatu peristiwa buruk terjadi (misalnya: kematian , kehilangan sesuatu, masalah keluarga dll), dan kita juga tak dapat merubah emosional kita begitu saja. Ibu harus berupaya untuk mengatasi stress ini demi keselamatan diri dan bayinya. Misalnya mencari tahu apa penyebabnya, melakukan komunikasi bisa dengan suami, keluarga, teman, ataupun konsultasi dengan tenaga kesehatan.

2. Dukungan social
Mercer menganggap bahwa pengaruh negative dari pengalaman hidupyangnegatif dan resiko kehamilan dapat diperbaiki oleh kepribadian individu serta dukungan social. Dukungan social dapat datang dari orang-orang terdekat atau keluarga, juga dukungan dari masyarakat

3. Self esteem
“Self esteem” atau Percaya diri adalah konsep individu tentang dirinya sendiri yang meliputi bagaimana perasaannya tentang diri dan tubuhnya, serta seberapa jauh kepuasan yang didapatkannya dari tubuh yang dimilikinya. Self esteem ini akan berpengaruh besar terhadap apapun yang dilakukan oleh individu.

4. Perasaan menguasai
Misalnya perasaan khawatir terhadap kehamilan menguasai dirinya sebagai contoh seorang wanita hamil jadi malas beraktivitas karena takut keamilannya terganggu.

5. Kecemasan
Cemas terhadap kehamilan, apakah bayi yang akan dilahirkan sehat dan tidak ada kelainan, mampu atau tidak ia menjalankan perannya sebagi ibu yang baik. Kecemasan juga melanda pada saat persalinan karena itu dukungan social sangat dibutuhkan.

6. Depresi
Depresi pada ibu yang sedang mengandung disebabkan banyak hal. Pertama, adanya perubahan hormon yang menpengaruhi mood ibu secara keseluruhan sehingga si ibu sering merasa kesal, jenuh, atau sedih. Penyebab lainnya adalah, keadaan fisik yang berubah saat hamil. Menjelang usia kehamilan tertentu, ibu mengalami sulit tidur. Ini tentu menyebabkan si ibu keesokan harinya akan merasa amat letih, ada lingkaran hitan di mata, dan kulit muka menjadi kusam. Adanya masalah-masalah pada kandungan seperti kandungan lemah, sering muntah pada awal kandungan, adan masalah-masalah lain juga bisa menyebabkan depresi dan berpengaruh terhadap kondisi psikisnya dimana ibu akan terus-menerus mengkhawatirkan keadaan anak dan ini akan membuat dia merasa tertekan.

Pencapaian Peran Ibu

Salah satu penekanan dari teori Mercer adalah pencapaian peran ibu. Menjadi seorang ibu berarti mengambil suatu identitas baru. Pencapaian peran ibu adalah suatu proses interaksi dan perkembangan yang terjadi dalam suatu kurun waktu. Mercer sama halnya dengan Rubin mengambil pendekatan saling mempengaruhi (interactionis) dalam memahami proses dimana seseorang mengambil suatu peran baru. Terjalinnya ikatan kasih antara ibu dan bayi membutuhkan kompetensi dalam mengemban tugas pengasuhan yang terlibat dalam peran tersebut. Penampilan peran dari seseorang juga dipengaruhi oleh pengalaman masa lalunya dan pandangan dari mereka sendiri. Mercer menggambarkan dasar teori dari penelitian pencapaian peran yang mengidentifikasi 4 tahap pencapaian peran, yaitu :

1. Fase pendahuluan, yaitu masa sebelum memangku jabatan bila seseorang memulai penyesuaian social dan psikologi terhadap peran, dengan mempelajari harapan dari peran tersebut. Sehingga dalam pelaksanaannya menjadi peranan yang sesuai.

2. Fase formal dan informal, fase formal adalah mulai dengan masa jabatan yang sesungguhnya dimana perilaku peran terutama diarahkan oleh harapan formal, konsensus dari diri oranglain dalam social system individu tersebut. Fase informal mulai ketika individu tersebutmengembangkan caranya sendiri dalam memainkan peran itu yang tidak termasuk kedadalam system sosialnya.

3. Fase personal, fase dalam pencapaian peran. Seseorang menentukan gayanya sendiri dalam penampilan perannya dan orang lain umumnya menerima pernyataan itu.

Dalam penelitiannya Mercer menemukan variable-variabel yang berpengaruh terhadap pencapaian peran :

Ø Variabel dari ibu
Usia ibu waktu pertama kali melahirkan.

Usia dapat menggambarkan tingkat kedewasaan serta perubahan pola pikir seseorang. Seorang ibu dengan usia dewasa mempunyai tingkah laku berbeda dengan seorang ibu dengan usia belum dewasa. Dapat dilihat dari kesiapan segi fisik maupaun mental, seorang ibu dengan usia dewasa lebih baik dibandingkan dengan yang belum dewasa misalnya usia remaja dimana masih memiliki emosi yang labil sehingga cenderung sulit untuk mengambil keputusan secara bijaksana. Karena orang dewasa lebih bisa mengontrol emosi serta perasaannya sehingga ia menjadi lebih siap dalam melaksanakan tanggungjawab, mengambil keputusan, dalam rangka melakoni perannya sebagai ibu. 

Persepsi tentang pengalaman melahirkan.
Bagaimana individu tersebut menilai suatu kehamilan ataupun persalinan. Bisa saja seorang wanita tidak menginginkan kehamilan karena takut sakit bila persalinan tiba, cemas akan mengganggu aktifitas, merusak penampilan, atau bisa saja karena ia tidak ingin direpotkan karena mempunyai seorang bayi atau anak. Hal ini bisa dipicu dari cerita masyarakat yang pernah mengalami proses ini. Lain halnya dengan wanita yang memang mendambakan kehamilan walaupun ada sedikit rasa cemas namun masih bisa diatasi misalnya karena ada dukungan keluarga ataupun konsultasi dengan tenaga kesehatan.

Perpisahan dini dari ibu-bayi.
Perpisahan dapat akibat dari kematian ataupun keadaan yang memang mendesak sang ibu harus berpisah dengan bayinya. Hal ini dapat berpengaruh terhadap psikis ibu dan bisa jadi pemicu timbulnya stress bahkan depresi.

Stress sosial.
Stress social juga mempengaruhi pencapaian peran ibu. Misalnya kehamilan yang terjadi di luar nikah akibat kekerasan seksual dapat menimbulkan gangguan psikis. Seperti wanita ini mungkin tidak menginginkan kehamilannya dan berupaya untuk menggagalkan kehamilannya dengan cara apapun. Dan ini merupakan hal yang sangat tidak menyenangkan dan perlu waktu serta bantuan dari pihak lain seperti psikiater agar si wanita hamil tersebut dapat menerima kehamilannya.

Dukungan social.
Dukungan social yang baik dari orang-orang terdekat atau keluarga serta peran serta masyarakat dilingkungan sekitar dapat membantu pencapaian peran ibu.

Konsep diri.
Penilaian atau konsep mengenai si calon ibu tersebut, misalnya konsep tentang bahwa saya bisa menjadi ibu yang baik. Maka setidaknya calon ibu bisa termotivasi untuk menjaga kehamilannya sampai bayi itu lahir.

Pembawaan pribadi
Pembawaan pribadi berpengaruh terhadap pencapaian peran ibu. Pembawaan pribadi yang sabar, mampu mengendalikan emosi, dan bijak saat mengambil keputusan akan membawa efek baik bagi calon ibu.

Cara mendidik anak.
Pencapaian peran ibu juga dipengaruhi oleh cara mendidik anak. Hal ini seharusnya sudah dipikirkan atau direncanakan bagaimana calon ibu akan mendidik anaknya kelak. Keberhasilan seorang anak ditentukan bgaimana seorang ibu mendidik anak-anak mereka.

Status kesehatan ibu.
Yaitu persepsi ibu dari kesehatan mereka sebelumnya, kesehatan sekarang, harapan sehat, kerentanan terhadap penyakit, keprihatinan terhadap kesehatan, dll.

Ø Variabel dari bayi :

1. Temperamen, keadaan emosional bayi yang belum terkendali misalnya peluapannya dapat dilihat dari tangisan. Dan seorang ibu harus bisa memahami apa yang sedang dibutuhkan sibayi misalnya bayi rewel karena haus atau lapar.

2. Kesehatan bayi, peran ibu sangat penting terhadap kesehatan bayi. Misalnya dengan memberikan nutrisi yang tepat,apabila kesehatannya sudah sangat terganggu dan tidak bisa ditangani sendiri oleh ibu maka ibu segera meminta bantuan kepada tenaga kesehatan.

Ø Variabel lain/campuran :

1. Latar belakang suku atau etnik.
2. Status perkawinan.
3. Status social ekonomi.








Makalah Konsep Kebidanan

6:50 AM 0
Makalah Konsep Kebidanan
KESETARAAN GENDER DAN PEMBERDAYAAN PEREMPUAN DALAM GLOBALISASI 

BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang

Dalam era globalisasi ini terbuka lebar bagi setiap warga negara untuk memperoleh kesempatan yang sama dalam bidang apapun. Sebagai contoh dengan adanya pembaharuan hukum, pemberdayaan perempuan dalam pembangunan dibidang politik telah diwujudkan dengan terpilihnya seorang perempuan sebagai Presiden yang juga selaku Kepala Negara memegang pimpinan bangsa dan negara Republik Indonesia yang merupakan kebanggan kita bersama.

Perkembangan peradaban di dunia Barat dan Timur yang semula tumbuh dalam lingkup budaya dan ideologi patriarkis telah terkikis dengan meninggalkan dampak negatif diberbagai aspek kehidupan dan struktur masyarakat serta telah menciptakan ketimpangan gender. Kebudayaan global tengah mendesak kepentingan kesetaraan gender keseluruh penjuru dunia termasuk Indonesia. Tidaklah mungkin diingkari, kita telah melepaskan pemahaman kuno yang memandang perempuan secara kodrati hanyalah "konco wingking" belaka, tetapi masih diharapkan kewajiban domestik dapat tertanggulangi bersama melalui kemitrasejajaran serta dengan berbagi peran dalam keluarga. Bahwa kemampuan sama sekali tidak terkait dengan jenis kelamin, tetapi kehidupan publik mensyaratkan kualifikasi tersebut bilamana kesempatan di mungkinkan.

Prinsip dasar dalam Konvensi Wanita adalah persamaan substantif, non diskriminasi, dan prinsip kewajiban negara. Peraturan Hukum yang bersifat diskriminatif pada zaman kolonial telah menghambat perkembangan bagi pemberdayaan perempuan. Bias gender masih terasa dalam substansi hukum positif, meskipun pemerintah sudah menandatangani sejumlah konvensi yang mengatur hak-hak perempuan. Memperbaharui perundang-undangan warisan kolonial dan hukum nasional yang diskriminatif termasuk ketidakadilan gender sudah menjadi arah kebijakan hukum pemerintah. Perubahan nilai sosial yang diawali dengan berkembangnya proses industrialisasi dan kemajuan teknologi informasi membawa dampak positif menuju kesetaraan gender.

Determinise biologis juga telah memperkuat pandangan tersebut. Artinya. karena secara biologis perempuan dan laki-laki berbeda maka fungsi-fungsi sosial ataupun kerja dengan masyarakat pun di ciptakan berbeda. Laki-laki selalu dikaitkan dengan fungsi dan tugas di luar rumah, sedangkan perempuan yang berkodrat melahirkan ada di dalam rumah, mengerjakan urusan domestik saja. Perempuan bertugas pokok membesarkan anak, laki-laki bertugas mencari nafkah. Perbedaan tersebut di pandang sebagai hal yang alamiah. Itu sebabnya ketimpangan yang melahirkan subordinasi perempuan pun dipandang sebagai hal yang alamiah pula. Hal tersebut bukan saja terjadi dalam keluarga, tetapi telah melebar ke dalam kehidupan masyarakat.

Peran yurisprudensi yang berperspektif gender, seharusnya dimanfaatkan secara optimal untuk pemberdayaan perempuan dalam pembangunan berkelanjutan dalam rangka mewujudkan kesetaraan dan keadilan gender. Keberhasilan pemberdayaan perempuan dimaksud, sepenuhnya tergantung pada pelaksanaan penerapan dan penegak hukum yang diperankan oleh aparat penyelenggara negara dan oleh kaum perempuan sendiri.

B. Rumusan Masalah

Sebagaimana kita ketahui bersama di dunia Barat ataupun di Timur, perkembangan peradaban manusja tumbuh dalam lingkup budaya dan ideology patriarki. Dinegara-negara Barat, Amerika Serikat, dan Eropa Barat, budaya tersebut terlebih dahulu terkikis sejalan dengan perkembangan tehnologi, demokrasi dan lain-lain yang mendudukan persamaan dan keadilan sebagai nilai yang sentral.
Di negara-negara dunia ketiga, termasuk Indonesia, budaya dan ideologi tersebut masih sangat kental dan mewarnai berbagai aspek kehidupan dan struktur masyarakat serta menciptakan ketimpangan-ketimpangan gender. Bagi masyarakat tradisional, patriarki di pandang sebagai hal yang tidak perlu dipermasalahkan, karena hal tersebut selalu dikaitkan dengan kodrat yang tidak terbantahkan. Kepercayaan bahwa Tuhan telah menetapkan adanya perbedaan laki-laki dan perempuan, sebingga perbedaan dalam kehidupan manusia pun diatur berdasarkan perbedaan tersebut. Tambah lagi, faktor agama telah digunakan untuk memperkuat kedudukan kaum laki-laki.
Globalisasi dan reformasi yang sedang berlangsung ini bukan hanya gerakan memerangi penindasan, otoritarianisme, ketidakadilan, dan sebagainya, yang bersifat non demokratis, tetapi kita harus melihatnya sebagai proses transisi menuju demokrasi. Sekarang inilah kesempatan bagi kaum perempuan untuk mengaktualisasikan diri, serta segala bentuk subordinasi dan marjinalisasi bukan waktunya lagi tetap melekat pada diri kaum perempuan. ldeologi patriarkhis telah melahirkan ketimpangan dan ketidakadilan gender dalam berbagai bidang.

C. Tujuan Penulisan

Tujuan penulisan makalah ini adalah selain untuk memenuhi tugas mata kuliah Konsep Kebidanan, juga untuk menambah wawasan terkait masalah kesetaraan gender serta pengaruhnya terhadap pemberdayaan kaum perempuan dalam pembangunan khususnya dalam era globalisasi yang dianggap semua pihak mempunyai kesempatan yang sama dalam semua aspek kehidupan.

BAB II ISI

A. Makna Globalisasi

Globalisasi adalah sebuah istilah yang memiliki hubungan dengan peningkatan keterkaitan dan ketergantungan antarbangsa dan antar manusia di seluruh dunia melalui perdagangan, invetasi, perjalanan, budaya popular, dan bentuk-bentuk interaksi yang lain sehingga batas-batas suatu negara menjadi semakin sempit.
Menurut asal katanya, globalisasi diambil dari kata global, yang maknanya adalah universal. Tokoh yang pertama kali menggunakan istilah globalisasi ini adalah Theodore Levitte pada tahun 1985. Ada yang memandangnya sebagai suatu proses sosial atau proses sejarah, atau proses alamiah yang akan membawa seluruh bangsa dan Negara di dunia makin terikat satu sama lain, mewujudkan satu tatanan kehidupan baru atau kesatuan dengan membatasi penglihatan terhadap batasan geografis, ekonomi, bahkan budaya masyarakat.
Fenomena globalisasi secara terminologis dapat dimaknai sebagai intensifikasi relasi-relasi social seluas dunia yang menghubungkan lokalitas-lokalitas berjauhan sedemikian rupa sehingga peristiwa di satu tempat ditentukan oleh peristiwa lain yang terjadi bermil-mil jaraknya dari tempat tersebut. Terminologi ini menekankan karakteristik khusus globalisasi yang menjadi ruang hidup manusia modern yang ditandai oleh keluasan (extencity), kekuatan (intencity), kecepatan (velocity), dan dampak (impact) yang luar biasa dan yang belum terbayangkan sebelumnya.

B. Dampaknya Terhadap Kehidupan Perempuan

Seiring dengan fenomena globalisasi, muncul feminisme global guna menjawab penindasan terhadap perempuan akibat dari kebijakan dan praktik-praktik globalisasi. Feminisme global menekankan bahwa penindasan terhadap perempuan di satu bagian dunia seringkali disebabkan oleh apa yang terjadi di bagian dunia yang lain. Charlotte Bunch mengidentifikasi 2 (dua) tujuan jangka panjang feminisme global :
1. Hak setiap perempuan atas kebebasan memilih, dan kekuatan memilih dan kekuatan untuk mengendalikan hidupnya sendiri di dalam dan di luar rumah. Memiliki kekuasaan atas hidup dan tubuh perempuan sendiri merupakan hal yang esensial untuk memastikan adanya rasa kebanggaan dan otonomi pada setiap perempuan.
2. Penghapusan semua bentuk ketidakadilan dan penindasan dengan menciptakan tatanan social dan ekonomi yang lebih adil secara nasional dan internasional. Hal ini berarti keterlibatan perempuan dalam perjuangan kebebasan nasional, dalam perencanaan pembangunan nasional, dan perjuangan bagi perubahan di tingkat lokal dan global.

C. Konsep Gender

Gender adalah peran social dimana peran laki-laki dan perempuan ditentukan. Gender diekspresikan dalam bentuk hubungan antara jenis kelamin yang meningkatkan peran dari peran tersebut, dan diasumsikan sebagai perilaku yang sesuai. Mindset gender adalah dipelajari dan dapat berubah dari satu generasi ke generasi selanjutnya, dari satu budaya ke budaya lain, dan dari satu kelompok social, etnis, atau ras dengan yang lainnya, dalam suatu budaya yang sama. Peran gender bisa berubah melalui perubahan dalam pendidikan, teknologi, dan ekonomi serta situasi krisis seperti perang atau kelaparan. (The Manager, 2001)
Pada awalnya gender diambil dari kata dalam bahasa arab “jinsiyyun” yang kemudian diadopsi dalam Perancis dan Inggris menjadi “gender” (Faqih, 1999). Dalam terminologi rasional secara biologis perempuan membedakan laki-laki dengan melihat perbedaan system reproduksi, anatomi dan variasi hormonal.
Definisi gender menurut World Health Organization, gender adalah perbedaan peran dan tanggung jawab perempuan dan laki-laki yang ditentukan secara social. Gender berhubungan dengan persepsi dan pemikiran serta tindakan yang diharapkan sebagai perempuan dan laki-laki yang dibentuk masyarakat, bukan karena perbedaan biologis. (WHO, 1998)
Stereotip gender berarti perempuan dan laki-laki didefinisikan sebagai makhluk yang berbeda. Masing-masing dengan kesempatan, peran dan tanggung jawab sendiri. Misalnya, perempuan diharapkan bertanggung jawab penuh dalam urusan domestik, dan mengasuh anak, usia lanjut dan orang sakit. Laki-laki di sisi lain ditempatkan pada tanggungjawab utama untuk mendukung keluarga (perempuan bergabung dengan mereka meningkatkan pasar tenaga kerja).
Pembagian gender membentuk kehidupan bagi perempuan dan laki-laki secara mendasar. Sebagai seorang individu dengan identitas tertentu dan sebagai actor dalam keberagaman yang tidak terbatas dari konteks social, mereka dibentuk dan dibentuk ulang oleh keperempuanan dan kelaki-lakian mereka. Pada kebanyakan masyarakat mereka juga menggunakannya untuk menjustifikasi ketidaksetaraan utama dengan mereka yang dikategorikan perempuan mempunyai akses yang lebih rendah dibandingkan mereka yang berjenis kelamin laki-laki terhadap keberagaman sumberdaya ekonomi dan social yang lebih luas.

D. Paradigma Gender Dalam Agama Islam

Islam hadir di dunia tidak lain untuk membebaskan manusia dari berbagai bentuk ketidakadilan. Al-Qur’an mengakui adanya perbedaan antara laki-laki dan perempuan, namun perbedaan tersebut bukanlah perbedaan dalam hal diskriminasi yang menguntungkan satu pihak dan merugikan pihak lainnya. Tetapi lebih dimaksudkan untuk mendukung misi pokok Al-Qur’an yaitu terciptanya hubungan harmonis yang didasari rasa kasih sayang dilingkungan keluarga. Ini semua dapat terwujud manakala ada keseimbangan dan keserasian antara laki-laki dan perempuan. (Departemen Agama, 2003)
Islam menempatkan perempuan pada posisi yang sama dengan laki-laki, kesamaan tersebut diantaranya :
1) Kesamaan memperoleh imbalan atau pahala dari amal shaleh yang dilakukan disebutkan dalam Firman Allah :
“Barang siapa mengerjakan amal shaleh baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik.” (QS An-Nahl : 97)
2) Islam tidak mentolerir adanya diskriminasi dan perlakuan tidak adil antara laki-laki dan perempuan bahkan antar umat manusia. Firman Allah :
“Kami menciptakan kalian dari seorang laki-laki dan perempuan, dan menjadikan kalian berbangsa-bangsa, bersuku-suku supaya saling mengenal, seseungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu adalah orang yang paling bertaqwa diantara kamu, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.” (QS Al-Hujurat : 13)
3) Al-Qur’an memandang hubungan antara laki-laki dan perempuan sebagai hubungan mitra sejajar. Disebutkan dalam firman Allah :
“Orang-orang mukmin (laki-laki) dan mukminah (perempuan) sebagian mereka adalah penolong bagi sebagian yang lain, mereka menyuruh (mengerjakan) yang ma’ruf, mencegah dari yang mungkar, mendirikan shalat, menunaikan zakat dan mereka taat kepada Allah dan Rasul-Nya, mereka itu akan diberi rahmat oleh Allah. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (QS At-Taubah : 71)

E. Pemberdayaan Perempuan Dalam Pembangunan

Diharapkan adanya komitmen bersama terhadap upaya mengatasi masalah-masalah yang dihadapi perempuan dalam menghapuskan kendala-kendala yang menghalangi terwujudnya kesetaraan dan keadilan gender. Perlu menyadari hal-hal apakah yang harus diubah untuk memungkinkan terwujudnya keadilan gender yang operasional. Rincian yang ada dalam Konvensi Wanita menggambarkan bahwa perubahan sosial budaya dan ekonomi serta politik harus terjadi dalam hampir semua bidang kehidupan dan kegiatan.
Indonesia telah mencapai kemajuan dalam meningkatkan kesetaraan dan keadilan pendidikan bagi penduduk laki-laki dan perempuan. Hal itu dapat dibuktikan antara lain dengan semakin membaiknya rasio partisipasi pendidikan dan tingkat melek huruf penduduk perempuan terhadap penduduk laki-laki, kontribusi perempuan dalam sektor non-pertanian, serta partisipasi perempuan di bidang politik dan legislatif. Kita akan lihat bagaimana gambaran pemberdayaan perempuan dalam berbagai aspek diantaranya :

1) Dalam bidang pendidikan

Berdasarkan survey yang diadakan Susenas dalam Jurnal Laporan Perkembangan Pencapaian Tujuan Pembangunan Milenium Indonesia, secara keseluruhan, Indonesia telah mencapai kemajuan yang berarti dalam mencapai kesetaraan gender di bidang pendidikan Sekolah lanjutan atas dan perguruan tinggi. Pendidikan dasar dan lanjutan. Terdapat kesetaraan gender di tingkat sekolah dasar, namun rasio di sekolah lanjutan pertama cenderung lebih dari 100 persen. Hal ini menunjukkan proporsi perempuan lebih tinggi dibandingkan laki-laki. Diperlukan analisis lebih lanjut mengapa partisipasi penduduk laki laki relatif lebih rendah dibandingkan perempuan. Faktor yang menghambat akses perempuan ke sekolah lanjutan atas dan perguruan tinggi di antaranya akses yang masih terbatas. Jumlah sekolah yang terbatas dan jarak tempuh yang jauh diduga lebih membatasi anak perempuan untuk bersekolah dibandingkan lakilaki. Perkawinan dini juga diduga menjadi sebab mengapa perempuan tidak melanjutkan sekolah ke jenjang yang lebih tinggi. Pandangan bias gender. Gejala pemisahan gender (gender segregation) dalam jurusan atau program studi sebagai salah satu bentuk diskriminasi gender secara sukarela (voluntary discrimination) ke dalam bidang keahlian masih banyak ditemukan. Pemilihan jurusan-jurusan bagi anak perempuan lebih dikaitkan dengan fungsi domestik, sementara itu anak laki-laki diharapkan berperandalam menopang ekonomi keluarga sehingga harus lebih banyak memilih keahlian-keahlian ilmu keras, tehnologi dan industri. Penjurusan pada pendidikan menengah kejuruan dan pendidikan tinggi menunjukkan masih terdapat stereotipi dalam sistem pendidikan di Indonesia yang mengakibatkan tidak berkembangnya pola persaingan sehat menurut gender. Sebagai contoh, bidang ilmu social pada umumnya didominasi siswa perempuan, sementara bidang ilmu teknis umumnya didominasi siswa laki-laki.

Target pada Millennium Development Goals, kebijakan yang diambil adalah mewujudkan persamaan akses pendidikan yang bermutu dan berwawasan gender bagi semua anak laki-laki dan perempuan; menurunkan tingkat buta huruf penduduk dewasa terutama penduduk perempuan melalui peningkatan kinerja pendidikan pada setiap jenjang pendidikan, baik melalui sekolah maupun luar sekolah, pendidikan kesetaraan dan pendidikan baca tulis fungsional bagi penduduk dewasa; dan meningkatkan kemampuan kelembagaan pendidikan dalam mengelola dan mempromosikan pendidikan yang berwawasan gender. Kebijakan itu dilaksanakan melalui lima strategi utama, yaitu: penyediaan akses pendidikan yang bermutu, terutama pendidikan dasar secara merata bagi anak laki-laki dan perempuan baik melalui pendidikan persekolahan maupun pendidikan luar sekolah; penyediaan akses pendidikan kesetaraan bagi penduduk usia dewasa yang tidak dapat mengikuti pendidikan sekolah; peningkatan penyediaan pelayanan pendidikan baca tulis untuk meningkatkan derajat melek huruf, terutama penduduk perempuan; peningkatan koordinasi, informasi, dan edukasi dalam rangka mengarusutamakan pendidikan berwawasan gender; dan pengembangan kelembagaan institusi pendidikan baik di tingkat pusat maupun daerah mengenai pendidikan berwawasan gender.

2) Kontribusi perempuan terhadap upah di sektor non-pertanian

Kontribusi penduduk perempuan dalam pekerjaan upahan (wage employment) untuk sektor non-pertanian mengalami peningkatan dari 1996 sampai dengan 1998, yaitu dari 28,3 persen menjadi 37,6 persen. Peningkatan kontribusi terjadi di hampir semua provinsi. Beberapa provinsi seperti Jawa Tengah, DI Yogyakarta, Bali, NTB, dan NTT bahkan telah mencapai lebih dari 50 persen. Namun sejak 1998 kontribusi perempuan itu menurun dari tahun ke tahun sehingga menjadi 28,26 persen pada 2002. Kecenderungan penurunan terjadi hampir di semua provinsi. Kondisi itu diduga terkait dengan krisis ekonomi yang terjadi sejak 1997 yang menyebabkan banyaknya pemutusan hubungan kerja yang lebih banyak terjadi pada pekerja perempuan.

3) Partisipasi perempuan dalam parlemen

Pada periode 1992–1997, proporsi perempuan di DPR adalah 12 persen. Pada periode keanggotaan 1999-2004, dari seluruh anggota DPR yang berjumlah 500 orang, hanya 45 orang di antaranya atau 9,9 persen yang perempuan. Namun terdapat 82 persen anggota DPR perempuan yang lulus perguruan tinggi. Ini lebih banyak dibandingkan anggota DPR laki laki dengan tingkat pendidikan yang sama, yaitu 75 persen.

F. Peran Kepemimpinan Bidan
Zaman telah berubah, dan saat ini kita hidup di era dimana perlu dialog terbuka mengenai siapa yang bisa menjadi pemimpin dan apa yang diperlukan untuk menerapkan kepemimpinan yang efektif. Terbuka peluangyang besar bagi laki-laki dan perempuan yang berani menjawab tantangan demi mencapai kemajuan. Yang menarik adalah bakat dan keterampilan perempuan, perlahan tapi pasti mulai diakui.
Atribut kepemimpinan berhubungan dengan peran gender, tetapi kepemimpinan itu sendiri tidak terpengaruh oleh gender. Misalnya, seorang perempuan yang berperan sebagai pemimpin tidak hanya mampu menyelesaikan tugas atau memenuhi komitmennya tetapi mereka juga mengubah stereotip yang sudah mengakar selama berabad-abad serta mampu membuktikan bahwa ada lebih dari satu cara untuk menjadi pemimpin yang berhasil.
Bidan dan calon bidan, seperti petugas kesehatan lainnya yang menyediakan pelayanan bagi perempuan terus menerus menghadapi dilemma moral dan etis yang disodorkan oleh tradisi system dan istitusi yang berpihak kepada laki-laki. Seorang bidan mengusung tanggungjawab untuk menjadi pemimpin di kalangan masyarakat sekitarnya. Tugasnya sebagai bidan juga memposisikan dirinya untuk menghadapi tradisi dominasi laki-laki dalam hal yang menyangkut seksualitas dan akibat dari perilaku seksual laki-laki yang tidak bertanggungjawab. Berarti, bidan harus bermitra dengan pengelola program yang bertujuan juga untuk mencapai keadilan dan kesetaraan gender. Disinilah bidan diperlukan keterampilan kepemimpinan untuk menggalang komitmen, merencanakan secara strategis, memobilisasi sumber daya, meningkatkan kemitraan sector dan dapat membuka akses pada pelayanan atau program kesehatan reproduksi.
Untuk membangun sebuah karakteristik kepemimpinan yang efektif, bidan dalam menjadi panutan harus menjaga kejujuran dan integritas. Bidan harus mampu membangun dan memptivasi tim menjadi tim yang kuat dan produktif agar mendukung upaya promosi kesetaraan dan keadilan gender dalam meningkatkan status kesehatan reproduksi perempuan. Bidan harus memperlakukan setiap orang dengan hormat dan penuh penghargaan, melakukan yang terbaik dan bisa dipercaya, selalu bersedia dan berperan nyata di masyarakat. Masyarakatpun perlu mempunyai rasa memiliki sehingga tercipta lingkungan yang mendukung perubahan perilaku. Semua ini membuthkan pemberdayaan masyarakat, dan untuk bisa sukses diperlukan sebuah kepemimpinan.

BAB III PENUTUP

A. Kesimpulan
Diharapkan adanya komitmen bersama terhadap upaya mengatasi masalah-masalah yang dihadapi perempuan dalam menghapuskan kendala-kendala yang menghalangi terwujudnya Kesetaraan dan keadilan gender. Budaya dan ideologi patriarki, baik di dunia Barat maupun Timur masih sangat mewarnai berbagai aspek kehidupan dan struktur masyarakat yang menciptakan ketimpangan dan ketidakadilan gender, hubungan dalam keluarga, tehnologi, kewarisan, ekonomi dan masih banyak bidang lainnya.
Perubahan sosial menuju ke mitra sejajaran gender di awali dengan proses industrialisasi dan kemajuan tehnologi informasi dengan fenomena meningkatnya jumlah perempuan yang bekerja di luar rumah. Melalui pengarahan pemerintah diharapkan perempuan akan lebih banyak berpartisipasi dalam pembangunan dengan tujuan utama memberdayakan perempuan tidak saja untuk masa kini tetapi juga untuk masa mendatang agar dapat berperan serta aktif dan mengefektifitaskan dalam pembangunan yang berkelanjutan.
Terkait dengan profesi bidan, harus berani untuk mengemukakan hambatan-hambatan dalam upaya pencegahan perilaku berisiko maupun upaya perubahan perilaku. Dan untuk mewujudkannya perlu mengikutsertakan masyarakat serta aparat yang berwenang, sehingga tujuan yang diinginkan dapat tercapai dan manfaatnya dapat dirasakan bersama.

B. Saran
Untuk keberhasilan dan pembangunan berkelanjutan mengenai kemitrasejajaran gender, hendaknya pemerintah dapat menegakkan hukum secara konsisten untuk lebih menjamin kepastian hukum, mengembangkan peraturan-peraturan agar pemberdayaan perempuan dapat dilaksanakan untuk meningkatkan kualitas hidup. kesejahteraan kehidupan keluargadan masyarakat. Menggalakkan sosialisasi peran yurisprudensi untuk lebih dapat dimanfaatkan bagi pemberdayaan perempuan untuk meningkatkan kesejahteraan keluarga dan masyarakat dalam pembangunan yang berkesinambungan. Peningkatan Kualitas Sumber Daya Manusia dan kaum perempuan dengan system pendidikan biaya ringan, bila dimungkinkan dengan pemberian beasiswa.
Bidan dan calon bidan, seperti petugas kesehatan lainnya yang menyediakan pelayanan bagi perempuan terus menerus menghadapi dilema moral dan etis yang disodorkan oleh tradisi system dan istitusi yang berpihak kepada laki-laki. Disini bidan diharapkan untuk selalu memperkaya ilmu, kemampuan dan keterampilannya sebagai tangan panjang pemerintah dan profesi terdepan dalam kesehatan anak dan perempuan.

DAFTAR PUSTAKA
Henderson, C. 2005. Buku Ajar Konsep Kebidanan. Jakarta : EGC
Jurnal Laporan Perkembangan Pencapaian Tujuan Pembangunan Milenium Indonesia. Diaksesdari http: //www.undp.or.id/pubs/imdg2004/BI/IndonesiaMDG_goals3.pdf. Juni 2010
Syukrie, E. 2008. Seminar Pemberdayaan Perempuan. Diakses dari : http : //www.lfip.org/English/pdf/baliseminar/pemberdayaanperempuan.pdf. Juni 2010

Friday, March 2, 2018

SOAP KDPK

4:38 PM 0
SOAP KDPK

ASUHAN KEBIDANAN 

PADA NY. A 

DENGAN Ca. CERVIX STADIUM IV B 

TINJAUAN KASUS

I. PENGKAJIAN

A. ANAMNESA

 KLIEN

Nama : Ny. A

Umur : 63 tahun

Agama : Islam

Suku Bangsa : Sunda

Kebangsaan : Indonesia

Alamat : Jln. Dusun Bakar Kondang RT 09/09 Kelurahan Tanjung Rasa

Subang

Pekerjaan : Ibu rumah tangga

Pendidikan : SD

SUAMI

Nama : Tn. W

Umur : 65 tahun

Agama : Islam

Suku Bangsa : Sunda

Kebangsaan : Indonesia

Alamat : Jln. Dusun Bakar Kondang RT 09/09 Kelurahan Tanjung Rasa

Subang

Pekerjaan : Petani

Pendidikan : SD

loading...


KELUHAN UTAMA PASIEN 

Sakit perut pada bagian bawah dan mendapat rujukan dari RS. Karawang dengan Ca. Servix.

RIWAYAT PENYAKIT SEKARANG
Pasien mengaku keluar perdarahan pervagina sejak kurang lebih 3 bulan. Perdarahan terjadi kadang-kadang saja tetapi tidak setiap hari. Pasien tidak merasa pada perutnya terdapat benjolan. Terdapat keputihan disertai bercampur dengan darah. Dirujuk dengan kanker leher rahim, karena alat-alat di RS. Karawang tidak lengkap. Sebelumnya berobat ke RS. Hasan Sadikin Bandung dan dikatakan Ca. Servix direncanakan operasi tetapi pada saat itu ditunda karena pasien hypertensi. Tetapi setelah itu pasien tidak pernah kembali.

RIWAYAT PENYAKIT DAHULU

Riwayat penyakit diabetes mellitus, jantung, dan asma disangkal. Sedangkan pada penyakit hypertensi pasien mengaku control tidak teratur dan tidak minum obat.
RIWAYAT PENYAKIT DALAM KELUARGA 

Riwayat penyakit diabetes mellitus, jantung, asma, dan hypertensi disangkal.

RIWAYAT PEKERJAAN, SOSIAL EKONOMI, KEJIWAAN, KEBIASAAN

Pasien menikah dua kali, usia 15 tahun cerai dan perkawinan kedua usia 17 tahun. Menarche usia kurang lebih 13 tahun dan teratur setiap bulan. Tidak merasakan nyeri haid. Pasien juga mengaku kadang-kadang merokok.

ASUHAN KEBIDANAN MENURUT MASLOW

Tanggal : 1 Maret 2018

S : - Klien mengeluh kurang nafsu makan.

- Klien mengeluh sulit buang air kecil karena kendala kaki yang sakit.

- Klien mengeluh pegal pada pinggang.

O : - Kesadaran : composmentis , GCS F E: 4, M: 6, V: 5

- Keadaan umum : lemah, bedrest

- Keadaan emosional : stabil

- Tanda-tanda vital : - Tekanan darah : 120/80 mmHg

- Nadi : 84 X/menit

- Suhu : 36 °C

- Pernafasan : 20 X/menit

- Tinggi badan : 153 cm

- Berat badan : 40 kg

· Pemeriksaan Fisik Head to Toe

- Keadaan rambut dan hygiene kepala : warna rambut hitam, kulit kepala agak kotor, mudah rontok (alopesia), berketombe.

- Hidrasi kulit daerah dahi : tidak terdapat oedema dan fingerprint.

- Mata : kedua mata simetris, oedema pada palpebrae, konjunctiva tidak pucat, sclera tidak ikterik.

- Rongga hidung : bentuk hidung simetris, tidak ada secret.

- Telinga : bentuk telinga simetris, tidak ada drainase.

- Mulut dan gigi : bentuk mulut simetris, terdapat karang gigi, beberapa gigi tanggal.

- Leher : tidak ada pembesaran kelenjar thyroid ataupun kelenjar getah bening.

- Paru-paru : bentuk dada simetris, tidak dilakukan pemeriksaan palpasi dan perkusi, auskultasi suara nafas vesikuler, tidak ada ronchi ataupun wheezing.

- Jantung : bunyi jantung I dan bunyi jantung II normal tidak terdapat gallop ataupun mur-mur.

- Payudara : tidak dilakukan pemriksaan.

- Kulit : kering agak keriput.

- Abdomen : bentuk datar dan terdapat nyeri pada perut bagian bawah.

- Genitalia : bentuk simetris, terpasang kateter.

- Muskuloskeletal : tidak terdapat oedema, hangat, gerak terbatas karena terdapat nyeri pada tibia, fibula, femur bagian dextra.

A : 1. Kebutuhan nutrisi.

2. Kebutuhan eliminasi.

3. Kebutuhan mobilisasi.

P : 1. Masalah kebutuhan nutrisi.

- membantu klien dalam pemberian makan dan minum.

- menganjurkan untuk makan sedikit-sedikit tapi sering.

- memotivasi klien agar tidak malas memenuhi kebutuhan nutrisinya.

- observasi seberapa banyak makanan yang telah dikonsumsi klien.

2. Masalah kebutuhan eliminasi.

- kolaborasi memasang dower kateter.

- observasi pengeluaran urin.

- bantu kosongkan urin bag.

3. Masalah kebutuhan eliminasi

- kolaborasi memberikan latihan mobilisasi.

- membantu klien untuk miring kanan dan miring kiri.

- motivasi klien agar tidak malas menggerakkan tubuhnya.

Tanggal 2 Maret 2018

S : - Klien mengeluh kesulitan untuk tidur.

- Klien mengeluh kurang nyaman pada posisi bantal.

- Klien mengeluh stik laken agak basah.

- Klien mengeluh sakit pada bagian kaki.

- Klien merasa rambutnya berantakan.

O : - Kesadaran : compos mentis

- Keadaan umum : lemah, bedrest

- Keadaan emosional : stabil

- Tekanan darah : 130/80 mmHg

- Nadi : 76 X/menit

- Suhu : 36,9 °C

- Pernafasan : 20 X/menit

A : 1. Kebutuhan istirahat dan rasa nyaman.

2. Kebutuhan mobilisasi.

3. Kebutuhan personal hygiene.

P : 1. Masalah kebutuhan istirahat dan rasa nyaman.

- membantu merapikan ruangan serta tempat tidur.

- membantu membetulkan posisi tidur dan bantal klien sampai senyaman mungkin.

- mengganti stik laken dengan yang baru.

- memotivasi klien untuk berdoa jika sulit tidur.

2. Masalah kebutuhan mobilisasi.

- membantu klien untuk miring kanan-miring kiri.

- membantu menggerakkan kaki sedikit demi sedikit.

- memotivasi untuk terus mencoba.

3. Masalah kebutuhan personal hygiene.

- membantu pasien untuk menyisirkan rambutnya.

- bantu untuk keramas.

Tanggal : 3 Maret 2018

S : - Klien mengeluh tidak selera dengan makanan dari rumah sakit.

- Klien mengeluh pusing dan sulit tidur.

- Klien mengeluh pegal pada pinggang dan punggung.

- Klien merasa tidak nyaman dengan kukunya yang panjang.

O : - Kesadaran : compos mentis.

- Keadaan umum : lemah, bedrest.

- Tekanan darah : 120/80 mmHg

- Nadi : 76 X/menit

- Suhu : 38 °C

- Pernafasan : 20 X/menit

A : 1. Kebutuhan nutrisi.

2. Kebutuhan istirahat dan rasa nyaman.

3. Kebutuhan mobilisasi.

4. Kebutuhan personal hygiene.

P : 1. Masalah kebutuhan nutrisi.

- menjelaskan tentang makanan tersebut dan memotivasi agar mau makan.

- anjurkan untuk menghabiskan makanannya.

- anjurkan klien untuk makan makanan kesukaaannya.

- anjurkan untuk makan sedikit-sedikit tapi sering apabila klien mual.

2. Masalah kebutuhan istirahat dan rasa nyaman.

- membantu memberikan obat paracetamol 1 tablet secara oral untuk penurun panas dan pereda pusing.

- membantu memberikan minum.

- anjurkan klien untuk tidak banyak pikiran yang dapat memicu stress.

- mengobservasi tanda-tanda vital.

3. Masalah kebutuhan mobilisasi.

- membantu klien untuk miring kiri dan miring kanan.

- membantu membetulkan posisi tidur klien.

- memotivasi klien agar jangan malas bergerak.

4. Masalah kebutuhan personal hygiene.

- membantu memotong dan membersihkan kuku-kukunya.













Makalah Pelayanan Gawat Darurat

7:37 AM 0
Makalah Pelayanan Gawat Darurat

PELAYANAN GAWAT DARURAT
Gambar terkait

Batasan
Yang dimaksud dengan pelayanan gawat darurat (emergency care) adalah bagian dari pelayanan kedokteran yang dibutuhkan oleh penderita dalam waktu segera (immediately) untuk menyelamatkan kehidupannya (life saving). Unit kesehatan yang menyelenggarakan pelayanan gawat darurat disebut dengan nama Unit Gawat Darurat      (Emergency Unit). Tergantung dari kemampuan yang dimiliki, keberadaan Unit Gawat Darurat (UGD) tersebut dapat beraneka macam. Namun, yang lazim ditemukan adalah yang tergabung dalam Rumah Sakit (hospital based emergency unit).
Hanya saja betapapun telah majunya system Rumah Sakit yang dianut oleh suatu Negara, bukan berarti tiap Rumah Sakit memiliki kemampuan mengelola UGD sendiri. Untuk mengelola kegiatan UGD memang tidak mudah. Penyebab utamanya adalah karena UGD adalah salah satu dari unit kesehatan yang paling padat modal, padat karya, serta padat teknologi.
Sekalipun diakui tidak semua Rumah Sakit memiliki kemampuan penyelenggarakan UGD, bukan lalu berarti  ketidakadaan UGD disuatu komunitas dapat dibenarkan. Pada saat ini dengan semakin kompleknya hidup dan kehidupan, keberadaan suatu UGD di setiap komunitas telah merupakan salah satu kebutuhan pokok.

Kegiatan
Kegiatan yang menjadi tanggung jawab UGD banyak macamnya. Secara umum dapat dibedakan atas tiga macam (Flynn, 1962) :
  1. Menyelenggarakan pelayanan gawat darurat
Kegiatan pertama yang menjadi tanggung jawab UGD adalah menyelenggarakan pelayanan gawat darurat. Pengertian gawat darurat yang dianut oleh anggota masyarakat memang berbeda dengan petugas kesehatan. Oleh anggota masyarakat, setiap gangguan kesehatan yang dialaminya dapat saja diartikan  sebagai keadaan darurat (emergency) dan karena itu mendatangi UGD untuk meminta pertolongan.
  1. Menyelenggarakan pelayanan penyaringan untuk kasus-kasus yang membutuhkan pelayanan rawat inap intensif.
Kegiatan kedua yang menjadi tanggung jawab UGD adalah menyelenggarakan pelayanan penyaringan untuk kasus-kasus yang membutuhkan pelayanan intensif. Pada dasarnya kegiatan ini merupakan lanjutan dari pelayanan gawat darurat, yakni dengan merujuk kasus-kasus gawat darurat yang dinilai berat untuk memperoleh pelayanan rawat inap intensif. Pada saat ini di Rumah Sakit memang telah tersedia beberapa unit kesehatan yang secara khusus menyelenggarakan pelayanan rawat inap intensif tersebut. Seperti misalnya Unit Perawatan Intensif (Intensive Care Unit) untuk kasus-kasus penyakit umum, serta Unit Perawatan Jantung Intensif (Intensive Cardiac Care Unit) untuk kasus-kasus penyakit jantung. 

  1. Menyelenggarakan pelayanan informasi medis darurat.
Kegiatan ketiga yang menjadi tanggung jawab UGD adalah menyelenggarakan informasi medis darurat dalam bentuk menampung serta menjawab semua pertanyaan anggota masyarakat yang ada hubungannya dengan keadaan medis darurat (emergency medical questions). Sayangnya, dibandingkan dengan kegiatan pertama dan kedua, kegiatan ketiga ini belum banyak diselenggarakan.

Masalah
Sama halnya dengan berbagai unit pelayanan kedokteran lainnya mengelola UGD tidak semudah yang diperkirakan. Akan banyak masalah yang ditemukan, yang jika disederhanakan, secara umum dapat dibedakan atas dua macam :
  1. Masalah pembiayaan
Masalah pertama yang ditemukan adalah kesulitan pembiayaan dalam mengelola UGD. Paling tidak ada dua factor utama yang berperanan disini. Pertama, karena biaya pengelolaan UGD memang besar. Kedua, karena pendapatan UGD tidak pernah bisa dijamin. Untuk yang terakhir ini erat hubungannya dengan ketidaksiapan dana dari pihak penderita, yang kait berkait dengan datangnya musibah gawat darurat yang tiba-tiba. Sementara itu, menolak memberikan pelayanan gawat darurat karena alasan penderita tidak memiliki dana, tidaklah dibenarkan.  

  1. Masalah beban kerja
Telah disebutkan, karena terdapatnya perbedaan pengertian keadaan gawat darurat antara pasien dengan petugas kesehatan, menyebabkan pelayanan UGD sering dimanfaatkan oleh mereka yang sebenarnya kurang membutuhkan. Dampak utama yang ditimbulkannya adalah memperberat beban kerja UGD, yang akan berakibat pada menurunnya mutu pelayanan.

Banyak faktor yang berperan sebagai penyebab makin meningkatnya angka kunjungan penderita ke UGD. Faktor-faktor yang dimaksud disamping karena terdapatnya perbedaan pengertian keadaan gawat darurat sebagaimana dikemukakan diatas, juga karena faktor-faktor sebagai berikut (Somers dan Somers, 1961) :
  1. Tidak tersedianya berbagai sarana kesehatan lain yang setiap saat dapat dimanfaatkan untuk memperoleh pelayanan rawat jalan, terutama pada hari-hari libur.
  2. Makin banyak dokter yang lebih senang merujuk penderita ke Rumah Sakit daripada melakukan tindakan medis di tempat praktek pribadi.
  3. Makin banyak penderita yang untuk penghematan, tidak berkunjung dulu ke dokter praktek atau ke klinik, karena menurut penilaian mereka dokter atau klinik tersebut nantinya akan  merujuk mereka ke Rumah Sakit.
  4. Pengaruh kebijakan asuransi kesehatan, yang hanya menanggung biaya pelayanan rawat jalan apabila diselenggarakan ole UGD.

Upaya penyelesaian
Untuk mengatasi berbagai masalah pelayanan gawat darurat sebagaimana dikemukakan di atas, ada beberapa upaya penyelesaian yang dapat dilaksanakan. Upaya yang dimaksud antara lain :
  1. Meningkatkan kegiatan pendidikan kesehatan masyarakat, sehingga disatu pihak pemahaman masyarakat terhadap pelayanan gawat darurat dapat ditingkatkan dan di pihak lain keterampilan masyarakat menanggulangi sendiri (self medication) masalah-masalah kesehatan sederhana (first aid) dapat ditingkatkan.
  2. Menambah jumlah sarana kesehatan yang bertanggung jawab menyelenggarakan pelayanan rawat jalan, termasuk pelayanan pertolongan pertama. Di banyak negara maju, pelayanan pertolongan pertama ini telah dilaksanakan oleh bukan sarana kesehatan, seperti Dinas Pemadam Kebakaran misalnya.
  3. Menggalakan program asuransi kesehatan, terutama yang menganut sistem pembayaran pra-upaya (pre-payment system).

Makalah Manajemen Mutu Pelayanan Fasilitas Kesehatan

7:31 AM 0
Makalah Manajemen Mutu Pelayanan Fasilitas Kesehatan

Gambar terkait

BAB I
PENDAHULUAN

A.    LATAR BELAKANG
Pelayanan gawat darurat (emergency care) adalah bagian dari pelayanan kedokteran yang dibutuhkan oleh penderita dalam waktu segera (immediately) untuk menyelamatkan kehidupannya (life saving). Unit kesehatan yang menyelenggarakan pelayanan gawat darurat disebut dengan nama Unit/Instalasi Gawat Darurat (Emergency Unit). Tergantung dari kemampuan yang dimiliki, keberadaan Unit/Instalasi Gawat Darurat (IGD) tersebut dapat beraneka macam. Namun, yang lazim ditemukan adalah yang tergabung dalam Rumah Sakit (hospital based emergency unit).  Pada saat ini dengan semakin kompleknya hidup dan kehidupan, keberadaan suatu IGD di setiap komunitas telah merupakan salah satu kebutuhan pokok.
Secara umum kegiatan yang menjadi tanggung jawab IGD dapat dibedakan atas tiga macam (Flynn, 1962), yaitu:
1.      Menyelenggarakan pelayanan gawat darurat
Kegiatan pertama yang menjadi tanggung jawab IGD adalah menyelenggarakan pelayanan gawat darurat.  Pengertian gawat darurat yang dianut oleh anggota masyarakat memang berbeda dengan petugas kesehatan. Oleh anggota masyarakat, setiap gangguan kesehatan yang dialaminya dapat saja diartikan  sebagai keadaan darurat (emergency) dan karena itu mendatangi IGD untuk meminta pertolongan.
2. Menyelenggarakan pelayanan penyaringan untuk kasus-kasus yang membutuhkan pelayanan rawat inap intensif
Kegiatan kedua yang menjadi tanggung jawab UGD adalah menyelenggarakan pelayanan penyaringan untuk kasus-kasus yang membutuhkan pelayanan intensif.  Pada dasarnya kegiatan ini merupakan lanjutan dari pelayanan gawat darurat, yakni dengan merujuk kasus-kasus gawat darurat yang dinilai berat untuk memperoleh pelayanan rawat inap intensif.  Pada saat ini di Rumah Sakit memang telah tersedia beberapa unit kesehatan yang secara khusus menyelenggarakan pelayanan rawat inap intensif tersebut. Seperti misalnya Unit Perawatan Intensif (Intensive Care Unit) untuk kasus-kasus penyakit umum, serta Unit Perawatan Jantung Intensif (Intensive Cardiac Care Unit) untuk kasus-kasus penyakit jantung.  
3.      Menyelenggarakan pelayanan informasi medis darurat
Kegiatan ketiga yang menjadi tanggung jawab IGD adalah menyelenggarakan informasi medis darurat dalam bentuk menampung serta menjawab semua pertanyaan anggota masyarakat yang ada hubungannya dengan keadaan medis darurat (emergency medical questions).
B.     TUJUAN
1.      Tujuan Umum
Untuk mendapatkan gambaran pelayanan kesehatan masyarakat dalam upaya meningkatkan mutu pelayanan kesehatan terutama di Ruang IGD RSUD dr. Moewardi Surakarta.
2.      Tujuan Khusus
a.  Untuk mengetahui standar pelayanan di ruang IGD RSUD dr. Moewardi Surakarta  yang meliputi 5 M, yaitu Man, Method, Money, Machine, dan Material
b.     Untuk menambah pengetahuan bagi mahasiswa tentang manajemen yang dilaksanakan di ruang IGD RSUD dr. Moewardi Surakarta dan berbagai penyakit yang biasa terjadi.
c.  Untuk memberikan bekal bagi mahasiswa agar secara langsung dapat mengetahui tentang manajemen dan berbagai penyakit yang terjadi di Ruang IGD RSUD dr. Moewardi Surakarta.
C.    MANFAAT
1.  Sebagai masukan untuk ruang IGD RSUD dr. Moewardi Surakarta agar lebih meningkatkan pelayanan yang masih kurang dan mempertahankan sistem pelayanan yang sudah dianggap baik
2.    Sebagai sarana untuk menambah pengetahuan mahasiswa tentang manajemen dan berbagai penyakit yang ada di ruang IGD RSUD dr. Moewardi Surakarta.

                                                                     BAB II

TINJAUAN TEORI
  
A.    TINJAUAN TEORI
1.      Tinjauan Mutu
Mutu pelayanan kesehatan adalah tingkat dimana pelayanan kesehatan untuk individu maupun populasi mampu menghasilkan outcome pelayanan sesuai dengan yang diharapkan dan konsisten dengan pengetahuan profesional terkini (IOM, 2001).   Peningkatan mutu pelayanan kesehatan mengandung arti bahwa sarana pelayanan kesehatan dan tenaga profesi kesehatan harus mampu menunjukkan akuntabilitas sosial untuk memberikan pelayanan prima kepada konsumen, yakni pelayanan yang sesuai dengan standar yang diakui sehingga dapat memenuhi atau bahkan melebihi harapan konsumen (Anwar,1996).
Mutu pelayanan kesehatan adalah yang menunjuk pada tingkat kesempurnaan pelayanan kesehatan, yang di satu pihak dapat menimbulkan kepusan pada tiap pasien sesuai dengan tingkat kepuasan rata-rata penduduk, serta di pihak lain tata cara penyelenggaraannya sesuai dengan kode etik dan standar pelayanan yang telah ditetapkan . Kepuasan pasien yang mengacu pada penerapan kode etik dan standar pelayanan :
a.       Harus terbina dengan baik hubungan dokter-pasien  sehingga tercipta pelayanan kesehatan yang bermutu.
b.      Kenyamanan pelayanan, tidak hanya menyangkut fasilitas yang disediakan tetapi yang terpenting adalah sikap serta tindakan para pelaksana pelayanan kesehatan.
c.       Kebebasan melakukan pilihan.
d.      Pengetahuan dan kompetensi teknis, semakin tinggi kompetensi teknis maka semakin tinggi mutu pelayanan.
e.       Efektifitas pelayanan, semakin efektif suatu pelayanan maka semakin tinggi mutu pelayanan.
f.       Keamanan tindakan, pelayanan medis yang membahayakan pasien bukanlah pelayanan yang baik.
2.      Profil RSUD Dr. Moewardi
Falsafah
RSUD dr. Moewardi Surakarta adalah Rumah Sakit yang memberikan pelayanan kesehatan dengan mutu yang setinggi-tingginya dan melaksanakan fungsi pendidikan kesehatan di Rumah Sakit dengan sebaik-baiknya yang diabdikan bagi kepentingan peningkatan derajat kesehatan masyarakat.

Visi
Menjadi pilihan utama masyarakat Jawa Tengah 2010

Misi
                                                      i.      Menyelenggarakan pelayanan kesehatan yang bermutu prima dan memuaskan.
                                                      ii.      Memberikan pelayanan yang terjangkau bagi semua golongan masyarakat.
                                                   iii.      Memberikan kontribusi nyata untuk pendidikan dan penelitian kesehatan yang terintegrasi dengan pelayanan dalam rangka peningkatan mutu SDM dan IPTEK kesehatan.

Nilai-nilai Dasar
                                                                 i.         Ketulusan
                                                               ii.         Kepedulian
                                                             iii.         Kerendahan hati
                                                             iv.         Keakraban
                                                               v.         Kesportifan
                                                             vi.         Keterbukaan
                                                           vii.         Kejujuran
                                                         viii.         Kerja keras
                                                             ix.         Keprofesionalan
                                                               x.         Kebersamaan

B.     PENGERTIAN EPIDEMIOLOGI
Pengertian epidemiologi dapat ditinjau dari berbagai aspek sesuai dengan tujuannya masing-masing, yaitu:
1.      Aspek Akademik
Epidemiologi berarti analis data kesehatan, social, ekonomi dan kecenderungan yang terjadi untuk mengadakn identifikasi dan interpretasi perubahan-perubahan keadaan kesehatan yang terjadi atau akan terjadi di masyarakat umum atau kelompok tertentu.
2.      Aspek Praktis
Epidemiologi merupakan ilmu yang ditujukan pada upaya pencegahan penyebaran penyakit yang menimpa individu, kelompok/masyarakat umum.
3.      Aspek Klinis
Epidemiologi berarti suatu usaha untuk mendeteksi secara dini perubahan insidensi atau prevalensi melalui penemuan klinis atau laboratories.
4.      Aspek Administratif
Epidemiologi berarti suatu usaha untuk mengetahui status kesehatan masyarakat di suatu wilayah atau negara agar dapat diberikan pelayanan kesehatan yang efektif dan efisisen sesuai dengan kebutuhan masyarakat.
Hasil studi epidemiologi dapat digunakan untuk:
1. Mendiagnosa kebutuhan pelayanan kesehatan pada masyarakat dan mengadakan prediksi kebutuhan pelayanan kesehatan di masa yang akan datang serta menentukan prioritas masalah kessehatan.
2.      Bahan pertimbangan dalam pelaksanaan program pelayanan kesehatan seperti pengobatan, pencegahan dan penanggulangan masalah kesehatan masyarakat.



loading...